Kisah Sejarah Guan Gong Berwajah Merah

Ramalan Suhu – Guang Gong yang bentuk tubuhnya yang tinggi besar, berjenggot panjang dan berwajah merah kehitaman. Tentang wajahnya guan gong yang berwarna merah ini terdapat sebuah cerita tersendiri yang tidak terdapat dalam novel San Guo karangan Luo Guanzhong. Suatu hari dalam pengembaraannya, Guan Yu berjumpa dengan orang tua yang sedang menangis sedih. Ternyata anak perempuan satu-satunya yang  hidupnya bergantung sama dia, dirampas oleh wedana setempat (kepala wilayah administrasi pemerintah, setingkat dibawah kabupaten) untuk dijadikan gundik. Guan Yu yang berwatak budiman dan tidak suka sewenang-wenang hal semacam ini membuat guan gong naik darah. Dibunuhnya lah wedana yang jahat itu dan sang gadis dikembalikan kepada orang tuanya.

Tetapi dengan perbuatan ini menjadikan Guan Yu  menjadi seorang buronan. Dalam pelariannya, ia sampai di Dong Guan, Shanxi. Ia lalu membasuh mukanya di sebuah sungai kecil yang terdapat di pergunungan itu. Seketika rupanya yang berubah menjadi merah, hingga tidak dapat dikenali lagi. Dengan mudah Ia menyelip diantara para petugas yang diperintahkan untuk menangkapnya tanpa diketahui. Riwayat Guan Yu selanjutnya dan sampai akhir hayatnya ditulis dengan sangat indah dalam novel San Guo yang terkenal itu.

lanjut dengan Kisah Sumpah Setia di Kebun Buah persik

Kisah-sumpah-setiah-di-kebun-persik

Dalam babak pertama dalam novel tersebut diceritakan bagaimana Guan Yu dalam pengembaraannya berjumpa dengan Liu Bei dan Zhang Fei disebuah kedai arak. Dalam pembicaraan mereka ternyata cocok dan sehati, sehingga memutuskan untuk mengangkat saudara. Upacara pengangkatan saudara ini, dilaksanakan di rumah Zhang Fei dalam sebuah kebun buah Tao atau kebun persik. Liu Bei menjadi saudara tertua, Guan Yu yang kedua dan Zhang Fei yang ketiga.

Bersama-sama mereka bersumpah sehidup semati dan berjuang untuk membela negara. Peristiwa ini terkenal dengan nama ‘Tao Yuan Jie Yi’ atau ‘Sumpah Persaudaraan Di kebun Persik; sangat dikagumi oleh orang dari zaman ke zaman dan dianggap sebagai lambang persaudaraan sejati. Lukisan tiga bersaudara yang sedang melaksanakan upacara sumpah angkat saudara ini banyak menjadi objek lukisan, pahatan, patung keramik yang sangat disukai orang hingga sekarang ini.

Ada banyak cerita tentang Guan Yu yang senantiasa asyik dibicarakan orang Tionghoa, seperti kisah Guan Yu berbekal sebilah golok tanpa bala pasukan menghadiri pesta musuh, karena Negara Shu tidak mau mengembalikan Kota Jingzhou. Negara Dong Wu menyiasati dengan menggelar pesta untuk mengundangnya, lalu menghabisi Guan Yu di dalam pesta. Guan Yu datang menghadiri pesta itu dengan sebuah perahu kecil beserta puluhan pengikutnya, ia memandang para menteri dan jenderal Negeri Dong Wu bagai anak kecil, dengan kharisma luar biasa ia berhasil kembali ke markas dengan selamat.

Kisah Guan Yu Yang Terluka

Kisah lainnya tentang perawatan luka dengan menyekrap tulang. Tatkala itu, ia berperang melawan pasukan Negara Wei, Guan Yu terluka oleh panah beracun. Tabib Hua Tuo menyembuhkan luka beracun tersebut dengan cara menyekrap tulang. Hua Tuo menggunakan pisau untuk menyekrap racun yang sudah merasuk ke tulang, hingga mengeluarkan bunyi. Guan Yu bergeming makan dan minum sambil bermain catur dengan muka senyum, sama sekali tidak tersirat wajah menahan sakit. Tabib sakti Hua Tuo memuji Beliau dengan berkata : “Jenderal benar-benar seorang Dewa yang datang dari langit.”

Kekalahan dan Kematian

Kekalahan Guan Yu dimulai dari situasi yang tak menguntungkan di pihaknya. Cao Cao mulai mengajak Sun Quan untuk beraliansi. Sun Quan yang sejak lama menginginkan kota Jingzhou (yang dikuasai Guan Yu pada waktu itu) agar kembali kedalam wilayah kekuasaannya, setuju dan mengerakan pasukan merebut Jingzhou. Guan Yu akhirnya berhasil dijebak dan ditawan, yang kemudian dihukum mati karena menolak untuk menyerah. Karena takut akan pembalasan Liu Bei, Cao Cao mengirimkan kepala Guan Yu ke tempat Sun Quan.

Pada waktu itu, Guan Yu ditangkap bersama Guan Ping, anak tertuanya; dibawa ke tengah perkemahan Sun Quan. Guan Yu hanya tertawa saja ketika dibawa untuk dihukum mati. Algojo yang akan memanggalnya menjadi ketakutan ketika menatap Guan Yu dan dia tidak berani untuk melaksanakan eksekusi itu, tidak ada prajurit biasa yang berani. Akhirnya Jenderal Pan Zhang dengan menggunakan Golok Naga Hijau memenggal kepala Guan Yu.

Cao Cao yang sejak lama kagum kepada Guan Yu memakamkan kepalanya setelah disambung dengan tubuh dari kayu cendana secara kebesaran. Kuburan Guan Yu terletak di propinsi Henan kira-kira 7 km sebelah utara kota Louyang. Pemandangan di situ sangat indah, sedangkan bangunan kuburannya sangat megah seakan-akan sebuah bukit kecil dari kejauhan. Sekeliling bangunan itu ditanami pohon Bai (Cypress) yang selalu hijau, melambangkan semangat Guan Yu yang tidak pernah padam dan abadi dari jaman ke jaman. Pohon-pohon itu kini sudah menghutan dan ratusan tahun umurnya, sebab itu tempat tersebut dinamakan Guan Lin. Batu nisannya adalah hadiah dari kaisar dinasti Qing, dimana makam itu telah dipugar kembali.

Berdekatan dengan Guan Lin, terdapat sebuat kelenteng peringatan untuk mengenang Guan Yu, yang dibangun pada jaman dinasti Ming. Kelenteng itu merupakan hasil seni bangunan dan seni ukir yang bermutu tinggi, sehingga merupakan objek wisata yang selalu dikunjungi para wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri. Kelenteng peringatan Guan Yu yang tersebar diseluruh Tiongkok terdapat di Jiezhou, propinsi Shanxi. Jiezhou, yang pada jaman San Guo disebut Hedong, adalah kampung halaman Guan Yu. Kelenteng itu memiliki keindahan bangunan dan arsitektur yang sangat mengagumkan dan merupakan salah satu objek wisata terkemuka di Shanxi.

“读好书,说好话,行好事,做好人” (關公语)

Dú hǎo shū, shuō hǎohuà, xíng hǎoshì, zuò hǎorén – guān gōng yǔ

Artinya kira-kira : “Membaca buku-buku yang bagus, Berbicara hal yang baik, Melakukan perbuatan yang benar, Jadilah orang yang baik” – kata Kwan Kong.

Sebagai Dewa

Sebagai Dewa, Kwan Kong dipuja oleh umat Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme, Kaum Taoist memujanya sebagai Dewa pelindung dari malapetaka peperangan, sedangkan kaum Konfusianisme menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan dan kaum Buddhist memujanya sebagai Hu Fa Qie Lan atau Qie Lan Pelindung Dharma.

Menurut kepercayaan kaum Buddist, setelah Kwan Kong meninggal arwahnya muncul dihadapan Biksu Pu Jing di kuil Yu Quan Si di gunung Yu Quan Shan, propinsi Hubei. Biksu Pu Jing pernah menolong Kwan Kong yang akan dicelakai seorang panglima Cao Cao, dalam perjalanan bergabung dengan Liu Bei. Setelah itu, karena takut pembalasan Cao Cao, Biksu Pu Jing menyingkir ke gunung Yu Quan Shan dan mendirikan Kuil Yu Quan Si.

Telah lebih dari 1000 tahun sejak itu Kwan Kong dipuja sebagai Boddistsatwa Pelindung Buddha Dharma. Penghormatan terhadap Kwan Kong sebagai orang ksatria yang teguh terhadap sumpahnya, tidak goyah akan harta kekuasaan dan kedudukan dan setia terhadap saudara-saudara angkatnya, menyebabkan ia memperoleh penghormatan yang tinggi oleh kaisar-kaisar pada jaman berikutnya.

Kwan Kong memperoleh gelar yang tidak tangung-tanggung Ia dsebut ‘Di’ yang berarti ‘Maha Raja“. Sejak itu Ia disebut Guan Di atau Guan Di Ye (Hokkian : Koan Te Ya) yang berarti Paduka Maha Raja Guan, sebutan  gelar Kedewaan yang sejajar dengan Xuan Tian Shang Di.

Penggambaran dan Visualisasi

dewa-guan-gong-ramalan-suhu

Kwan Kong umumnya divisualisasikan dengan berpakaian perang lengkap, kadang-kadang sambil membaca buku dengan putra angkatnya Guan Ping yang memegang cap kebesaran dan Zhou Chang pengawalnya yang setia, bertampang hitam brewokan, memegang golok Naga Hijau Mengejar Rembulan, senjata andalannya. Dalam pemujaan dikalangan Buddhis, Kwan Kong dipuja sendirian tanpa penggiring. Sering juga ditampilkan sebagai Qie Lan Pu Sa atau Boddhisatwa Pelindung, bersama-sama Wei Tuo.

Hari kelahiran Nya diperingati setiap tanggal 24 bulan 6 imlek, dan tanggal 13 bulan 1 imlek sebagai hari kenaikan Nya. Sementara Guan Ping (memperoleh gelar Ling Hou Thi Zi), hari kelahirannya diperingati tanggal 13 bulan 5 imlek, dan Zhou Chang (Jendral Zhou), diperingati setiap tanggal 20 bulan 10 imlek.

Seiring dengan mengalirnya para imigran Tionghoa keluar dari Tiongkok, pemujaan Kwan Kong tersebar ke berbagai Negara yang menjadi tempat tinggal para perantau itu. Seperti di Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Singapura dan Indonesia banyak sekali kelenteng yang memuja Kwan Kong. Di Indonesia, kelenteng yang khusus memuja Kwan Kong  terbesar dengan wilayah seluas 4 Hektar adalah kelenteng Guan Sheng Miao (Kwan Sin Bio) di Tuban, Jawa Timur.

Di tempat pemujaan Kwan Kong biasanya ikut dipuja seorang tukang kuda yang bernama  atau biasanya di pangil dengan Ma She Ye, ia bertugas merawat dan menjaga kuda tunggangan Kwan Kong yg di panggil Chi Thu Ma(kuda tunggangan ), dengar dari ceritanya kudanya Kwan Kong dalam sehari sanggup menumpuh 500km tanpa merasa lelah.

 

Kisah Sejarah Guan Gong Berwajah Merah was last modified: by

Berbagi itu Indah 🙂

%d bloggers like this: