Tjong A Fie, Tokoh Dermawan dari Medan (1)

Menyambut Imlek yang sebentar lagi tiba di tanggal 28 Januari 2017, Ramalan Suhu mengangkat cerita Tjong A Fie, yang dirangkum dari berbagai sumber, orang Tionghoa di Medan yang berjasa bagi pembangunan kota Medan dan bahkan rumah tinggalnya dijadikan salah satu tempat wisata di Medan, Sumatera Utara.

Kehidupan Awal Tjong A Fie

Tjong A Fie dilahirkan dengan nama Tjong Fung Nam (Aksara Tionghoa: 张鸿南) dari keturunan orang Hakka di Sungkow, Meixian, Guangdong, (Tiongkok) pada tahun 1860. Kemudian juga mendapat nama Tjong Yiauw Hian (aksara Tionghoa sederhana: 张耀轩; klasik: 張耀軒; pinyin: Zhang Yaoxuan) dan akhirnya lebih dikenal dengan nama Tjong A Fie (張阿輝).

Keluarga Tjong A Fie adalah keluarga yang sederhana, bersama kakaknya Tjong Yang Hian (1850-1911), Tjong A Fie meninggalkan bangku sekolah dan membantu menjaga toko ayahnya. Meski tanpa pendidikan yang tinggi, keuletan dan kecerdasan Tjong A Fie berhasil membuat usaha keluarga cukup sukses.

Pada tahun 1875, Tjong A Fie memutuskan untuk merantau ke Hindia Belanda (Indonesia) untuk mengadu nasib, saat itu usianya baru 18 tahun. Dengan bekal seadanya, beliau susul kakaknya, Tjong Yang Hian yang terlebih dahulu sudah datang ke Medan.

Kedatangan Tjong A Fie ke Medan dimulai bekerja di toko milik teman kakaknya, di toko tersebut, Tjong bekerja serabutan dari memegang pembukuan, melayani pelanggan, menagih utang dan lain sebagainya. Kepiawaian Tjong A Fie terletak dari cara bergaulnya, tidak hanya dengan orang Tionghoa, namun ia juga dekat dengan warga Melayu, Arab, India dan orang Belanda. Tjong A Fie juga belajar bahasa Melayu sehingga membuatnya mudah dalam berinteraksi dengan masyarakat di tanah Deli.

tjong-a-fie

Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, menjauhi candu, judi, mabuk-mabukan dan pelacuran. Ia menjadi teladan dan menampilkan watak kepemimpinan yang sangat menonjol. Ia sering menjadi penengah jika terjadi cekcok antara orang Tionghoa dengan etnis lain. Di daerah perkebunan milik Belanda sering terjadi keributan di kalangan buruh yang menimbulkan kekacauan dan karena kemampuannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu mengatasi masalah-masalah tersebut.

Di tanah Deli, Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan Sultan Deli, Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Muda sehingga membuka jalan baginya untuk menjalankan usaha. Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau untuk pembuatan bangsal.

Kepiawaiannya dalam berdagang membuat Tjong A Fie menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan yang sangat luas, kerajaan bisnisnya bahkan meliputi pertambangan  di Bukit Tinggi. Lebih dari 10.000 orang yang bekerja pada usahanya.

Ia lalu diangkat menjadi Letnan Tionghoa dan pindah ke kota Medan. Karena prestasinya yang luar biasa, dalam waktu singkat Tjong A Fie naik pangkat menjadi Kapitan pada tahun 1911, untuk menggantikan kakaknya yang telah wafat. Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.

Bersambung ke Tjong A Fie, Tokoh Dermawan dari Medan (2)

Summary
Review Date
Reviewed Item
Tjong A Fie, Tokoh Dermawan dari Medan (1)
Author Rating
51star1star1star1star1star
Tjong A Fie, Tokoh Dermawan dari Medan (1) was last modified: by

Berbagi itu Indah 🙂

%d bloggers like this: